"But I have infinite tenderness for you. I always will. My whole life," - Emma
RottenTomatoes: 91%
Metascore: 88/100
IMDb: 7,9/10
NikenBicaraFilm: 5/5
Rated: NC-17
Genre: Drama
Story / Cerita / Sinopsis:
Blue Is The Warmest Color, atau dalam versi Perancisnya diberi judul La Vie d'Adèle – Chapitres 1 & 2 (The Life of Adele, Chapter 1 & 2) berkisah mengenai perjalanan hidup Adele (Adèle Exarchopoulos) dalam misi pencarian jati diri, termasuk mengenai preferensi seksualnya. Ia berusaha menjalin hubungan dengan seorang pemuda, namun merasa bahwa ia tidak mendapatkan apa yang ia harapkan - sampai ia kemudian jatuh cinta dengan seorang gadis 22 tahun yang eksentrik, dengan rambut biru dan mata birunya, Emma (Léa Seydoux).Review / Resensi:
Sebuah film drama dengan durasi tiga jam seharusnya adalah film yang melelahkan dan membosankan. Belum lagi bagaimana sang sutradara, Abdellatif Kechiche membuat Blue Is The Warmest Color sebagai sebuah film yang merekam realita senyata mungkin, termasuk dengan teknik hand-held camera yang dipilihnya sepanjang film. Para aktris dan aktornya tidak menggunakan make-up, dan kabarnya para aktrisnya hanya disuruh membaca naskah sesedikit mungkin dan melakukan improvisasi ketika proses perekaman dimulai. Bahkan tidak ada backsound musik di film, kecuali seseorang benar-benar sedang menyalakan musik. Yeah, seharusnya film ini bisa membuat saya tidur pulas dalam 10 menit pertama. But somehow, this movie could dragged me into its two main characters, Adele & Emma and their bittersweet love story without made me get bored at all.Blue Is The Warmest Color, yang menyabet Palme d'Or di Cannes Film festival tahun 2013, adalah sebuah kisah coming-of-age seorang gadis ABG bernama Adele, dan sang sutradara mencoba menyampaikan dengan cara sejujur dan serealitis mungkin. Setiap segmen kisah berjalan begitu perlahan dengan banyak adegan - adegan yang sekilas terasa tidak penting, namun substansial dalam membuat penonton bisa memahami kisah seorang gadis bernama Adele, yang tampak seperti gadis ABG kebanyakan. Kechice merekam kehidupan Adele dengan sangat jujur, dan inilah poin paling menarik pada film ini yang di luar dugaan membuat Blue Is The Warmest Color menjadi film yang begitu indah untuk disaksikan.
Dalam durasi 3 jam, film ini terbagi menjadi 2 bagian. Pada bagian pertama, kamu akan diajak mendalami kehidupan Adele, seorang gadis ABG biasa yang gemar bergosip dengan teman-teman, belajar di kelas, mengejar bus ke sekolah, mencoba berpacaran dengan seorang pemuda, hingga akhirnya jatuh cinta pada seorang gadis eksentrik bernama Emma. Pada bagian pertama ini Kechice akan mengenalkanmu pada bagaimana Adele jatuh cinta kepada Emma - yang terasa indah sekaligus menyakitkan, karena well, ya keduanya berjenis kelamin sama dan itu bukan hal yang mudah bagi Adele. Paruh kedua akan mengajakmu menyelami kehidupan Adele & Emma yang beranjak dewasa, dimana Adele telah menjadi seorang guru dan Emma mencoba untuk berhasil di dunia seni lukis. Bagian kedua ini adalah dimana kamu menyadari bahwa keduanya tumbuh menjadi dua pribadi yang visinya saling berbenturan, dan masing-masing harus berjuang untuk mengatasinya. Bagian pertama membuatmu jatuh cinta, dan bagian kedua membuatmu patah hati. Seluruh proses yang dilalui Adele & Emma ini adalah hal mudah untuk dijadikan bahan drama, namun Kechice memberikan perspektif cerita yang berbeda: menjadikan proses dramatis itu tidak sedramatis mungkin. Inilah yang membuat film ini tidak jatuh menjadi sebuah film kacangan yang mengambil tema LGBT untuk kepentingan menarik perhatian publik.
Salah satu hal kontroversial yang mewarnai film ini tentu saja adalah muatan seksualnya. Ada adegan seksual yang dilakukan 2 orang gadis dalam durasi kira-kira tujuh menit. Waktu tujuh menit ini menurut saya adalah hal yang berlebihan dan kepanjangan, dan membuat saya seperti sedang menyaksikan soft-porn movie - namun saya tidak mengatakan adegan seksual itu tidak penting. Justru di adegan inilah kita bisa menelanjangi hasrat seksual keduanya, dimana keduanya menemukan emosi yang selaras dalam penyatuan diri (dan bukankah cinta sebenarnya eufimisme dari hasrat seksual?). Inilah klimaks yang mempertontonkan dan menelanjangi perasaan keduanya - dan kala Adele menangis setelah berhubungan seks, membuat kita bisa menyelami dilema terbesar yang dialaminya. Chemistry keduanya, yang diperankan dengan sangat apik oleh Léa Seydoux dan Adèle Exarchopoulos, tidak hanya passionate, tapi juga manis. But yeah I'm wondering, if you replace two girls in this movie with two boys, apakah film ini masih bisa terasa manis? Apakah kita masih merasa nyaman menyaksikan 2 pria bergumul bersama di atas ranjang?
Teknik pengambilan gambar yang dipilih Kechiche mengingatkan saya pada teknik yang biasa dipakai opera sabun atau sinetron Indonesia. Kebanyakan gambar menyorot ekspresi muka para pemerannya, sehingga totalitas ekspresi para aktrisnya mutlak menjadi salah satu hal yang esensial. Di sinilah bagaimana kedua aktris keduanya, Adèle Exarchopoulos sebagai Adele, dan Léa Seydoux sebagai Emma membawakan perannya dengan baik. Exarchopoulos mampu menampilkan sedikit keluguan dan kepolosan seorang Adele yang menarik dan simpatik. Tapi tentu saja the true star in this movie buat saya adalah Lea Seydoux yang tampil begitu meyakinkan sebagai lesbian yang berjiwa bebas. Setiap gerak - geriknya, senyum dan sorot matanya, tampaknya bisa membuat setiap wanita normal sejenak bisa khilaf. Chemistry keduanya juga terasa begitu romantis, manis dan memikat. Saya menemukan diri saya tersenyum ketika keduanya saling flirting-flirting, lewat keduanya yang saling bertatapan penuh makna (tentu saja tatapan mata keduanya jauh berbeda dengan tatapan mata ala Edward dan Bella) - hingga saya juga bisa merasa ikut hancur ketika hubungan keduanya harus mengalami ujian.
Jika kamu bertanya-tanya mengapa judul film ini adalah Blue Is The Warmest Color, Kechice mencoba menyusupkan elemen biru dalam banyak adegan, mulai dari piring-piring yang berwarna biru, baju Adele yang berwarna biru, adegan dimana Adele berenang di laut yang berwarna biru, hingga tentu saja biru sebagai warna yang paling hangat ada pada warna biru rambut Emma dan matanya yang berwarna biru. Saya seperti mampu terbawa pada perasaan Adele kala melihat Emma, menatap mata biru dan rambutnya yang biru - dan tenggelam pada hangat perasaan jatuh cinta itu. Sweet.
Overview:
Walaupun mengambil tema yang sedikit kontroversi, yaitu kisah lesbian, sesungguhnya film ini tidak lebih dari perjalanan seorang gadis manusia bernama Adele, yang menemukan cinta - dan lalu harus berjuang mempertahankan cintanya. Cara penyampaian Abdellatif Kechiche yang menjadi salah satu nyawa yang membuat film ini terasa indah untuk diikuti. Film ini begitu hidup, begitu jujur dan begitu gamblang - dan inilah yang menjadi kekuatannya. Léa Seydoux dan Adèle Exarchopoulos juga berhasil membawakan perannya dengan sangat baik, menghidupkan chemistry kedua peran utama dengan sangat menawan. Tidak salah jika Blue Is The Warmest Color disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik tahun 2013.