Directed by Ridley Scott ; Produced byRidley Scott, David Giler, Walter Hill ; Written by Jon Spaihts, Damon Lindelof ; Starring Noomi Rapace, Michael Fassbender, Guy Pearce, Idris Elba, Logan Marshall-Green, Charlize Theron ; Music by Marc Streitenfeld ; Cinematography Dariusz Wolski ; Editing by Pietro Scalia ; Studio Scott Free Productions, Brandywine Productions ; Distributed by 20th Century Fox ; Release date June 8, 2012 (North America) ; Running time 124 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $120–130 million
Genre: action, science-fiction
Genre: action, science-fiction
Sinopsis:
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth (Noomi Rapace) dan kekasihnya Charlie (Logan Marshall-Green) menghasilkan penemuan mengenai asal usul manusia yang merujuk pada suatu tempat di luar angkasa. Maka kemudian, sebuah kapal luar angkasa yang dibiayai oleh seorang milyuner kaya Peter Weyland (Guy Pearce), dan dikomandoi oleh Vickers (Charlize Theron) dengan bantuan seorang robot android bernama David (Michael Fassbender), dikirim terbang menuju tempat tersebut, untuk mengetahui “siapa” sesungguhnya yang telah menciptakan manusia, tanpa mereka sungguh-sungguh memahami apa yang sebenarnya menunggu mereka di sana.
Review:
Argh, asal usul manusia selalu menjadi pertanyaan akbar yang ditanyakan dari jaman nenek moyang kita sampai sekarang. Mempertanyakan asal usul manusia maka akan menuntun kita pada pertanyaan – pertanyaan selanjutnya yang jauh lebih membingungkan, seperti kenapa kita hidup? kemana kita setelah mati? Ya, menonton ini tidak akan menjawab pertanyaan itu. Atau lebih tepatnya, kamu tidak akan menemukan jawaban pertanyaan pertama tadi – bagaimana asal-usul manusia- secara filosofis ataupun agamis di film ini, karena menurut film yang disutradarai oleh Ridley Scott ini, asal usul manusia berasal dari sebuah alien dengan DNA yang sama dengan kita, tapi dengan badan yang dua kali lebih besar dari kita, dan –eerr, gag secakep kita.
FYI, berdasarkan legenda Yunani, Prometheus mencuri api dan memberikannya kepada manusia, padahal sebelumnya ‘api’ hanya dimiliki oleh dewa-dewa di khayangan sana. Legenda itu sendiri merujuk bagaimana manusia berusaha menyamai Dewa, dengan benda mewah bernama api – yang sebenarnya merupakan perlambang dari ilmu pengetahuan. Btw, gara-gara tindakannya yang ilegal itu, Zeus menghukum Prometheus dengan memasungnya pada batu, dan setiap hari, seekor burung elang akan memakan hatinya, tapi kemudian hatinya akan tumbuh kembali hanya untuk kembali dimakan oleh sang elang pada keesokan harinya. Pada akhirnya si Prometheus ini dibebaskan oleh Hercules. Film ini sendiri sebenarnya merupakan prekuel dari Alien (1979) yang juga digarap oleh Ridley Scott di awal karirnya doi. Tapi berdasarkan kabar yang saya baca, film ini akhirnya diharapkan untuk bisa berdiri sendiri dan bisa digarap cerita-cerita berikutnya... (Saya mauuu nonton nih kalo ada sekuelnya!!).
Menggabungkan pertanyaan paling penting dalam hidup manusia itu dengan unsur science-fiction saya pikir adalah poin lebih bagi Prometheus yang mungkin tidak dimiliki oleh film-film lainnya. Actually,kamu tidak akan menemukan jawaban secara gamblang atas teka-teki itu melalui film ini. Teori penciptaan benar-benar di luar nalar kita, dan carinya melalui agama yang kalian yakini. *eh kok malah ceramah*, maksud saya, Spaihts selaku penulis naskah menurut saya ingin menyampaikan sesuatu mengenai bagaimana kita memahami hakikat penciptaan manusia, yang disampaikan melalui dialog-dialog sang robot David (Michael Fassbender). Ini hakikat versi dia, tentu saja. Dan itu tidak disampaikan secara obvious, tapi saya berusaha menangkap maknanya dengan baik.
Dari departemen akting saya rasa tidak ada yang terlalu menonjol. Bahkan Charlize Theron tidak terlalu ‘menonjol’ di mata saya. Yang cukup mencuri perhatian mungkin bisa saya berikan kepada Michael Fassbender yang berperan sebagai android. *Ehmm.. kayaknya list cowok ganteng saya nambah satu lagi deh. Hehe. *kedip-kedip genit*. Tidak terlalu brillian sih sebenarnya, tapi pretty convincing. Selain itu, aktor aktris lain bermain dengan cukup baik, walaupun karakterisasi tampaknya memang bukan hal penting untuk sebuah science-fiction movie macam begini.
Dari segi penceritaan, saya pikir alur cerita cukup baik dibangun perlahan dari awal film hingga tiga perempat film. Setelah memasuki menit-menit akhir, saya merasa film ini berjalan terlalu cepat, dan sedikit kehilangan ritmenya, terutama alur ketegangannya. Ada banyak kejanggalan yang terjadi, termasuk adegan Elizabeth melahirkan bayi makhluk gag jelas dan dengan berdarah-darah keluar menyelamatkan diri dari meja operasi dan gag ada yang bertanya apa yang terjadi dengannya. Kisah di bagian akhir ini agak mengganggu, dan saya tahu ini film alien, tapi kemunculan alien-alien itu di bagian akhir sebenarnya agak bikin kecewa juga siihh.. hehe
Yang paling luar biasa sebenarnya adalah special effect yang benar-benar amazing untuk dilihat melalui layar bioskop. Pesawat Prometheus digambarkan dengan sangat keren – and it reminds me of spaceship on 2001: A Space Odyssey. Tapi yang paling menarik mata saya adalah landscape yang bener-bener breath-taking dari sebuah planet luar angkasa dan bagaimana pemandangan antariksa itu sendiri. Wow, that really a great scene too see. Saya jadi bener-bener ngarep 2001: A Space Odyssey yang adegan astronot Poole mati di keheningan antariksa bisa saya tonton ulang di layar bioskop. It will be a really really really greeaaatt! And FYI, it’s the best scene for me from that movie. Eh, tapi visual effect dari efek penuaan Guy Pearce sebenarnya agak mengganggu sih, dan kliatan banget tuanya dibuat-buat.
Overview:
Prometheus will not like another alien movies that maybe you’ve ever saw. Prometheus combine ‘The-Great-Question’ – a side of ‘human-story’, with science-fiction fantasy. Cukup entertaining untuk ditonton. Cerita good, acting okay, but the best for me is their great visual effect! Ayo Mr. Scott, pasti ada sekuelnya kaaan??!! gag mungkin kan kisahnya berakhir begituu??
Tonton atau tidak?
Tonton
RottenTomatoes: 73%
Metacritic: 65/100
NikenBicaraFilm: (4/5)