Dave Bowman: Open the pod bay doors, HAL.
HAL: I'm sorry, Dave. I'm afraid I can't do that.
HAL: I'm sorry, Dave. I'm afraid I can't do that.
Rated : R
Genre : Science-Fiction
RottenTomatoes: 96% (8.6/10)
IMDb: 8,3/10
Metacritic: 86/100
NikenBicaraFilm: 5/5
Directed by Stanley Kubrick ; Produced by Stanley Kubrick ; Screenplay by Stanley Kubrick, Arthur C. Clarke ; Novelization by Clarke Based on The Sentinel a short story by Arthur C. Clarke ; Starring Keir Dullea, Gary Lockwood, William Sylvester, Douglas Rain (voice) ; Cinematography Geoffrey Unsworth ; Editing by Ray Lovejoy Distributed by MGM (original), Warner Bros. (current) ; Release date(s) April 2, 1968 (Premiere), April 4, 1968 (Theatrical) ; Running time 161 minutes (Premiere), 142 minutes (Theatrical) ; Country United States ; Language English ; Budget $10.5 million ; Box office $56,715,371, (unadjusted) $351,427,063, (adjusted 2010)
Story / Cerita / Sinopsis :
2001 : A Space Odyssey merupakan sebuah film yang berjalan tanpa plot, menceritakan tema-tema besar akan asal mula manusia hingga kehidupan di luar bumi.Review / Resensi :
Film pertama Kubrick yang saya tonton justru adalah karya terakhirnya, Eyes Wide Shut (1999), dimana sutradara jenius tersebut meninggal dunia saat masih dalam proses editingnya. (Lihat reviewnya disini). Biarpun film tersebut dibintangi oleh Tom Cruise dan Nicole Kidman, namun Eyes Wide Shut buat saya tetaplah sebuah film yang non-mainstream, sulit dimengerti dan membuat uring-uringan penonton awam. Tapi, gag kapok-kapok, saya kembali ke film Kubrick yang dirilis beberapa dekade sebelumnya, 2001: A Space Odyssey. Sebuah film yang disebut-sebut sebagai film paling berpengaruh sekaligus kontroversial di genre science-fiction dan juga merupakan masterpiece sutradara tersebut.
2001 : A Space Odyssey adalah sebuah film tanpa plot. Ataupun kalau plot memang ada dan berjalan maju, maka relevansi antara satu cerita dengan cerita lainnya begitu susah untuk dihubungkan. Makanya saya agak kesulitan untuk menceritakan sinopsis film ini. Jadi, 2001 : A Space Odyssey dibagi menjadi 4 section. Bagian pertama menceritakan tentang monyet-monyet gag jelas yang tampaknya merupakan asal mula manusia, yang harus hidup dalam ketakutan akan bahaya makhluk buas lain dan suku lainnya. Sampai suatu ketika ada batu monolith hitam dan monyet-monyet itu menyentuhnya. Ajaib, mereka langsung lebih pintar dan kemudian menciptakan benda-benda primitif dari tulang binatang untuk memburu hewan lain. Lalu section kedua, menceritakan Dr. Heywood R. Floyd yang datang ke bulan untuk meneliti tentang batu monolith hitam bersama rekan-rekannya. Section ketiga, menceritakan perjalanan 5 astronot ke Planet Jupiter dimana tiga diantaranya sedang hibernasi. Dua astronot sisanya yakni Dave dan Frank, menemukan adanya kerusakan yang terdeteksi oleh komputer canggih mereka, HAL. Ternyata, kerusakan tersebut tidak ada dan HAL rupanya menjadi komputer yang bisa melakukan kesalahan, sehingga Dave dan Frank berkeinginan untuk mencabut kabel komputer HAL. Karena gag mau kabelnya dicabut, HAL memutuskan untuk membunuh para astronot tersebut. Lalu di section terakhir, Dave telah berada di Jupiter.
Well, ceritanya bener-bener gag jelas, dan satu-satunya yang menghubungkan antar satu section ke section lainnya hanyalah batu monolith yang misterius itu, yang sampai akhir tidak diceritakan maksud batu itu apa.
2001 : A Space Odyssey bagaikan sebuah enigma, teka-teki, seperti sebuah film yang dibuat murni untuk tujuan seni. Absurd, surealis, dengan gambar yang indah, dan bicara dalam bahasa non-verbal. Tidak lugas dan menimbulkan ambiguitas yang tidak terselesaikan. Bahkan dalam wawancaranya, Kubrick memang sengaja membuat film yang ‘aneh’ seperti ini. Biarkan penonton yang menginterpretasikan sendiri, mereka-reka makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya, sedang ia sendiri tidak ingin menunjukkan secara lugas apa yang dimauinya sebagai penulis dan sutradara. Bahkan saya kira Stanley Kubrick sendiri mungkin tidak yakin dengan apa yang dia maksudkan. 2001 : A Space Odyssey, jelas adalah sebuah misteri besar. Sebuah misteri yang bahkan sudah dimulai sejak detik pertamanya, yang cuma memunculkan blank scene dengan efek suara-suara samar-samar lalu kemudian tampak planet dengan cahaya.... This scene is epic!
Menonton 2001 : A Space Odyssey seperti sebuah marathon panjang yang melelahkan, dan saya seperti setengah bermimpi kala menontonnya. Tayangkan ini di bioskop sekarang, dan saya yakin separuh penonton akan dibuat terkantuk-kantuk. Otak jenius Kubrick menghasilkan 2001 : A Space Odyssey begitu minim dengan dialog dengan alur yang terlampau detail sekaligus begitu lamban. Bahkan section pertama dan keempat benar-benar tanpa dialog, penonton cuma disuguhi potongan adegan-adegan tanpa percakapan sama sekali. Sungguh, cerita yang aneh, absurd, gaya penyutradaraan yang totally non-mainstream dan non-konvensional, saya jelas menjadi penonton yang kebingungan dan tidak terpuaskan di akhir tayangan sepanjang 142 menit. Ya, 142 menit jelas sebuah durasi yang terlalu panjang untuk sebuah film dengan cerita yang gag jelas. Atau mungkin otak saya saja yang tidak nyampe.
Namun, terlepas dari ambiguitas yang melingkupinya, 2001 : A Space Odyssey jelas merupakan pionir di genre science-fiction. Visual efeknya jelas sangat mengagumkan pada masa tersebut, dan saya terkagum-kagum dengan betapa realistisnya Kubrick membangun detail – detail yang ada. Adegan astronot Frank dalam baju astronotnya yang kuning melayang-layang di angkasa yang gelap dan dalam dalam kesunyian *karena tidak ada udara yang mampu menghantarkan suara*, benar-benar begitu dalam meninggalkan kesan buat saya yang menontonnya. Sungguh, begitu indah secara sinematografis, sekaligus meninggalkan kesan yang sangat menakutkan - saya membayangkan bagaimana rasanya tersesat di alam semesta. Efek yang ditimbulkan benar-benar dramatis dan menimbulkan kesan magis yang gag bisa saya jelaskan. Saya juga menyukai section terakhirnya, saat Dave berada di rumah dan seolah-olah melihat manusia lain, namun ternyata itu dia sendiri. Classicc yet so damn hell creepy!! Efek melayang-layang tanpa gravitasi juga begitu fenomenal dan begitu realistis. Dan scene Stargate yang mengantarkan Kubrick menerima Oscar benar-benar fenomenal, walau saya sebenarnya jadi teringat animasi abstrak yang muncul di Windows Media Player. Begitu pula dengan icon HAL – sebuah benda *entah itu apa* serupa mata komputer buatan bernama HAL yang somehow membuat saya ngeri. (Icon "mata" HAL ini yang saya taruh di judul blog ini). Dan tentu saja, hal lain yang paling memorable adalah penggunaan lagu The Blue Danube waltz by Johann Strauss, dan Also sprach Zarathustra by Richard Strauss yang mengalun begitu megah di tengah lanskap pemandangan luar angkasa. Superb.
Akan tetapi harus diakui kesan futuristiknya memang masih saja terlihat retro. Apalagi kalau melihat potongan rambut yang ada. Beberapa propertinya juga masih terlihat sangat ‘jadul’ dan 60-an. Dan sedikit silly buat saya bagaimana Kubrick menggambarkan masa depan dengan properti yang masih menggunakan fitur tombol untuk ditekan. Mungkin Kubrick masih belum membayangkan bakal ada touchscreen di masa depan. Lol.
Overview:
Kubrick seperti mengajak bermimpi melalui 2001 : A Space Odyssey. Bermimpi menjelajahi alam semesta dan menelusuri filosofi hakikat hidup manusia. Sebuah film yang “cukup” absurd dan melelahkan, menonton film ini juga hanya akan menimbulkan pertanyaan besar. Namun jelas, 2001 : A Space Odyssey adalah sebuah film surealis yang wajib ditonton setiap penggemar film. 2001 : A Space Odyssey, adalah salah satu film terbaik di dunia. Tidak hanya karena visual efeknya yang mengagumkan, namun juga karena sinematografisnya yang luar biasa mengesankan. And that’s why, biarpun hingga akhir film saya dibikin bertanya-tanya, saya memberikan rating 5 untuk film ini. Really, ini tidak hanya menjadi masterpiece seorang Stanley Kubrick, namun juga menjadi mahakarya bagi perfilman dunia.
2001 : A Space Odyssey adalah sebuah film tanpa plot. Ataupun kalau plot memang ada dan berjalan maju, maka relevansi antara satu cerita dengan cerita lainnya begitu susah untuk dihubungkan. Makanya saya agak kesulitan untuk menceritakan sinopsis film ini. Jadi, 2001 : A Space Odyssey dibagi menjadi 4 section. Bagian pertama menceritakan tentang monyet-monyet gag jelas yang tampaknya merupakan asal mula manusia, yang harus hidup dalam ketakutan akan bahaya makhluk buas lain dan suku lainnya. Sampai suatu ketika ada batu monolith hitam dan monyet-monyet itu menyentuhnya. Ajaib, mereka langsung lebih pintar dan kemudian menciptakan benda-benda primitif dari tulang binatang untuk memburu hewan lain. Lalu section kedua, menceritakan Dr. Heywood R. Floyd yang datang ke bulan untuk meneliti tentang batu monolith hitam bersama rekan-rekannya. Section ketiga, menceritakan perjalanan 5 astronot ke Planet Jupiter dimana tiga diantaranya sedang hibernasi. Dua astronot sisanya yakni Dave dan Frank, menemukan adanya kerusakan yang terdeteksi oleh komputer canggih mereka, HAL. Ternyata, kerusakan tersebut tidak ada dan HAL rupanya menjadi komputer yang bisa melakukan kesalahan, sehingga Dave dan Frank berkeinginan untuk mencabut kabel komputer HAL. Karena gag mau kabelnya dicabut, HAL memutuskan untuk membunuh para astronot tersebut. Lalu di section terakhir, Dave telah berada di Jupiter.
Well, ceritanya bener-bener gag jelas, dan satu-satunya yang menghubungkan antar satu section ke section lainnya hanyalah batu monolith yang misterius itu, yang sampai akhir tidak diceritakan maksud batu itu apa.
2001 : A Space Odyssey bagaikan sebuah enigma, teka-teki, seperti sebuah film yang dibuat murni untuk tujuan seni. Absurd, surealis, dengan gambar yang indah, dan bicara dalam bahasa non-verbal. Tidak lugas dan menimbulkan ambiguitas yang tidak terselesaikan. Bahkan dalam wawancaranya, Kubrick memang sengaja membuat film yang ‘aneh’ seperti ini. Biarkan penonton yang menginterpretasikan sendiri, mereka-reka makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya, sedang ia sendiri tidak ingin menunjukkan secara lugas apa yang dimauinya sebagai penulis dan sutradara. Bahkan saya kira Stanley Kubrick sendiri mungkin tidak yakin dengan apa yang dia maksudkan. 2001 : A Space Odyssey, jelas adalah sebuah misteri besar. Sebuah misteri yang bahkan sudah dimulai sejak detik pertamanya, yang cuma memunculkan blank scene dengan efek suara-suara samar-samar lalu kemudian tampak planet dengan cahaya.... This scene is epic!
Menonton 2001 : A Space Odyssey seperti sebuah marathon panjang yang melelahkan, dan saya seperti setengah bermimpi kala menontonnya. Tayangkan ini di bioskop sekarang, dan saya yakin separuh penonton akan dibuat terkantuk-kantuk. Otak jenius Kubrick menghasilkan 2001 : A Space Odyssey begitu minim dengan dialog dengan alur yang terlampau detail sekaligus begitu lamban. Bahkan section pertama dan keempat benar-benar tanpa dialog, penonton cuma disuguhi potongan adegan-adegan tanpa percakapan sama sekali. Sungguh, cerita yang aneh, absurd, gaya penyutradaraan yang totally non-mainstream dan non-konvensional, saya jelas menjadi penonton yang kebingungan dan tidak terpuaskan di akhir tayangan sepanjang 142 menit. Ya, 142 menit jelas sebuah durasi yang terlalu panjang untuk sebuah film dengan cerita yang gag jelas. Atau mungkin otak saya saja yang tidak nyampe.
![]() |
One of my favorite scene - adegan ketika astronot Frank terapung di angkasa. |
Akan tetapi harus diakui kesan futuristiknya memang masih saja terlihat retro. Apalagi kalau melihat potongan rambut yang ada. Beberapa propertinya juga masih terlihat sangat ‘jadul’ dan 60-an. Dan sedikit silly buat saya bagaimana Kubrick menggambarkan masa depan dengan properti yang masih menggunakan fitur tombol untuk ditekan. Mungkin Kubrick masih belum membayangkan bakal ada touchscreen di masa depan. Lol.
Overview:
Kubrick seperti mengajak bermimpi melalui 2001 : A Space Odyssey. Bermimpi menjelajahi alam semesta dan menelusuri filosofi hakikat hidup manusia. Sebuah film yang “cukup” absurd dan melelahkan, menonton film ini juga hanya akan menimbulkan pertanyaan besar. Namun jelas, 2001 : A Space Odyssey adalah sebuah film surealis yang wajib ditonton setiap penggemar film. 2001 : A Space Odyssey, adalah salah satu film terbaik di dunia. Tidak hanya karena visual efeknya yang mengagumkan, namun juga karena sinematografisnya yang luar biasa mengesankan. And that’s why, biarpun hingga akhir film saya dibikin bertanya-tanya, saya memberikan rating 5 untuk film ini. Really, ini tidak hanya menjadi masterpiece seorang Stanley Kubrick, namun juga menjadi mahakarya bagi perfilman dunia.
Memorable Scene:
Adegan kematian Frank. Terapung-apung dengan baju astronot kuningnya di alam semesta yang hitam, kelam, dalam dan dingin dalam kesunyian.