Maaf sebelumnyaaa...
Membahas Matrix di jaman sekarang kayaknya emang udah basi banget. Selain itu, Matrix mungkin terlihat konyol sekarang, kostum Neo yang menyerupai gaun melambai dan kacamata tanpa gagang Morpheus sudah jelas menjadi satu hal fenomenal yang patut untuk dicebiri dari Matrix. Tapi kekonyolan itu dulunya bagi saya nampak cool, apalagi Neo dibintangi aktor ganteng Keanu Reeves sehingga apa saja yang dipakainya kelihatan keren – walaupun nyatanya ketika saya menyaksikan trilogi Matrix pada usia dewasa ini (*ceile dewasa) semuanya kelihatan konyol dan norak. Apalagi kacamata item itu lho... Ngapain juga dipake kemana-mana. Lol.
Well, di luar kostum yang tampaknya memang ‘norak’, Matrix memang menyimpan keseruan tersendiri. Kode-kode pemrograman berwarna hijau menjadi begitu identik dengan Matrix, dan adegan-adegan perkelahian slow motion 360 derajatnya (ato lebih dikenal dengan “bullet time”) juga begitu monumental untuk ditonton, dan juga adegan ketika Neo menghentikan peluru-peluru yang ditembakkannya ke arahnya. Classic! Gag salah, adegan-adegan action semacam gitu begitu asyik bagi saya, bahkan ketika saya menyaksikannya untuk kesekian kalinya beberapa hari kemarin. Hahaha... Matrix memang tak ubahnya sebuah guilty pleasure bagi saya sampe sekarang.
Jauh sebelum Inception seorang Nolan yang legendaris itu, Matrix membuat sebuah konsep baru mengenai kehidupan dan kinerja otak, yang membuat kita bertanya-tanya apakah gagasan mengenai kehidupan yang kita yakini ini, sebenarnya tak ubahnya sebuah pemrograman jenius yang dimasukkan ke pikiran kita. Dunia sebenarnya mendekati ambang kehancuran, manusia sedang berperang melawan mesin-mesin jahat yang bisa berpikir sendiri. Kehidupan keseharian ini, sebenarnya cuma akal-akalan mesin yang menidurkan seluruh manusia dan membuat mereka berpikir bahwa sesuatu yang fana itu real adanya. Cuma sebuah program. Oke, gagasan ini memang terdengar begitu liar, dan agak sulit mengetahui jalan pikiran trilogi Matrix. Bahkan ada yang bilang bahwa yang mengerti film ini sendiri cuma The Wachowski Brothers yang notabene adalah sutradara dan creator franchise The Matrix.
Sebelum bicara lebih jauh, saya akan membahas satu persatu bagian pembentuk trilogi Matrix. Start from the first movie: The Matrix.
The Matrix (1999)

Directed by Andy Wachowski, Larry Wachowski ; Produced by Joel Silver ; Executive: Andy Wachowski, Larry Wachowski, Grant Hill ; Written by Andy Wachowski, Larry Wachowski ; Starring Keanu Reeves, Laurence Fishburne, Carrie-Anne Moss, Hugo Weaving, Joe Pantoliano ; Music by Don Davis ; Cinematography Bill Pope ; Editing by Zach Staenberg ; Studio Village Roadshow Pictures, Silver Pictures ; Distributed by Warner Bros. Pictures ; Release date(s) March 31, 1999 (1999-03-31) (United States) ; Running time 136 minutes ; Country Australia, United States ; Language English ; Budget $63 million ; Gross revenue $463,517,383
Rotten Tomatoes : 87% (7.4/10)
Metacritic : 73/100
NikenBicaraFilm :
Sinopsis:
Cerita dimulai ketika Thomas Anderson (Keanu Reeves), yang di dunia hacker menamakan dirinya Neo, bertemu dengan Morpheus (Laurence Fishburne) dan Trinity (Carrie Ann Moss). Inilah awal dimana Neo berhasil keluar dari Matrix ke dunia real, dan mengetahui bahwa kehidupan yang ia kenal sebelumnya sebenarnya adalah pemrograman yang ditanam di otaknya oleh para mesin-mesin jahat. Morpheus meyakini dirinya (Neo) adalah “orang yang dipilih” yang akhirnya bisa memberikan kedamaian buat umat manusia, berdasarkan hasil ramalan Oracle, seorang peramal di dalam Matrix. Neo, tidak tahu apakah ini benar atau tidak, kemudian pergi ke Matrix untuk bertemu dengan Oracle, tanpa menyadari bahwa kepergiannya ini begitu berbahaya.

Review:
Matrix, dengan segala atribut gagasannya yang gila, dan adegan action yang begitu mempesona, dengan sosok jagoan yang cool, menjadikan Matrix menjadi awal yang begitu indah pada trilogi Matrix. Ini adalah film yang sukses. Gag heran kalo kemudian Matrix menjadi Box Office dengan meraih pendapatan sebesar lebih dari tujuh kali dari budget 63 juta dollar. Opening scenenya, menampilkan sosok Carrie Anne Moss berkelahi melawan para polisi sudah sedikitnya langsung menarik perhatian.
Ada banyak ide-ide gila seputar Matrix yang mungkin susah untuk dimengerti, dan saya sendiri gag bisa ngeh dengan cepat apa yang dimaui oleh The Wachowski Brothers. Pada film pertamanya ini, saya hanya menangkap sebuah permulaan kisah – yang nantinya akan semakin membingungkan: Neo, dipercaya oleh Morpheus dan kawan-kawan sebagai The One – orang yang dipilih, yang diharapkan bisa mengakhiri perang antara mesin dan manusia di kehidupan nyata sekaligus menghancurkan Matrix. Ramalan ini dilakukan oleh Oracle, dan pada bagian pertama ini dijelaskan apakah benar Neo adalah yang Terpilih atau bukan. Pada bagian awal ini emang lebih kepada pengenalan Matrix. Neo juga baru belajar menjadi manusia yang canggih dan belajar mengendalikan pikirannya di dalam Matrix. Pemrograman-pemrograman gila dirancang dan diberikan kepadanya, salahsatunya program kungfu dan jujitsu. Musuhnya di Matrix, masih sebatas agen-agen dengan jas yang rapi dan berkaca hitam (*btw saya gag tau kenapa Wachowski Brothers suka banget sama kacamata item). The big enemy of Neo, adalah Agen Smith yang sudah mulai memanggil Neo dengan sebutan: “Mr.Anderson...” – dengan intonasi yang saya yakin Anda gag bakal bisa melupakannya.
Di bagian pertama ini saya masih mempertanyakan siapa Oracle? Apakah dia manusia atau bagian dari program di Matrix seperti para agen di sana? – Dan ada beberapa hal lain yang saya juga gag begitu ngerti. Habis percakapan-percakapan di sini disampaikan dengan penuh maksud tersirat, gag langsung to the point. Mirip kayak penjelasannya Dumbledore yang selalu njelimet lah di bagian akhir cerita Harry Potter. Huft. Saya juga masih gag begitu ngerti bagaimana Neo mendadak bisa hidup kembali setelah Trinity mengucapkan “I Love You...”, dan bagaimana Neo bisa masuk ke tubuh Agen Smith dan menghancurkannya. Adegan Neo bisa bengkokin sendok juga maksudnya apa... Kalo menurut pikiran saya sih, mungkin maksudnya bahwa Neo harus benar-benar fokus dan berkonsentrasi bahwa kejadian di Matrix adalah rekayasa dan gag real. Tidak ada sendok. Kita cuma harus bisa mengendalikan pikiran. Dan cuma Neo yang mampu melakukan itu, karena dia adalah yang terpilih... *astaga niken, serius banget sih nonton film ngayal beginiaaannn... #jitakkepala

Sebagai sebuah film awal dari sebuah trilogi, saya rasa The Matrix cukup berhasil menyentak penonton dengan gagasannya yang liar, dan efek yang begitu mengagumkan. Adegan actionnya memang adalah adegan khas Hollywood yang mudah ditebak (lakon pasti selamat), tapi ayolahh... semua orang (including me) akan menjadikan itu sebagai adegan action yang tetap saya menyenangkan untuk ditonton. Saya malah pengen bilang bahwa Matrix punya adegan perkelahian terbaik yang pernah saya tonton. Terutama pada adegan Neo dan Trinity menembus markas besar sang Agen untuk menyelamatkan Morpheus. Dan tentu saja, Matrix memberikan sebuah keindahan visual effect yang mengagumkan, dan efek ini begitu populer – efek apalagi yang saya maksud kalo bukan “bullet time”-nya itu. Belum lagi keindahan perkelahian antara Neo dan Morpheus. Sungguh, tidak akan pernah mudah untuk melupakan The Matrix.
But, saya rasa noda besar pada The Matrix adalah romantisme percintaan Neo dan Trinity. Saya rasa Trinity gag pernah terlibat kejadian apapun yang membuat dia bisa jatuh cinta ama Neo. Masa hanya gara-gara ramalan Oracle yang mengatakan ia akan jatuh cinta pada Neo, terus dia dengan mudahnya bisa mengatakan bahwa ia cinta ama Neo. Adegan mengatakan I Love You pada Neo dan mencium bibir Neo pas Neo ditembak mati terus tiba-tiba Neo bisa hidup kembali juga terasa kacangan buat saya. Huft. Saya rasa pemilihan aktris Carrie Anne Moss sebagai Trinity juga ketuaan deh buat Keanu Reeves. #sirik

Ada lagi yang mau saya komentarin dari The Matrix. Pertama, kenapa harus pakai kacamata item setiap saat? Bukannya pake kacamata item malah ganggu penglihatan ya? Gag mikir apa kalo nembak jadi makin susah?? Kedua, bajunya Neo itu lho... Saya pikir kostum Trinity jauh lebih macho daripada baju Neo. Jubah melambai? Dari belakang malah mirip gaun. Haha... Ketiga, gag ada yang lebih menggangu dari kacamata tanpa gagang dari Morpheus. Saya gag habis pikir kenapa kacamatanya bisa gag jatuh biarpun Morpheus udah jungkir balik. Yaaa... namanya juga film. #maafinikomentargagpenting. Tapi saya rasa, justru kostum-kostum lebay itulah yang nampaknya juga berperan menguatkan kesan kepada penonton (termasuk saya). Gag cuma sekedar efek saja, tapi saya rasa demam Neo dan Agen Smith juga melanda di sejumlah umat yang pernah menonton film ini.
Facts (from wikipedia) :
1. Sebelum Keanu Reeves terpilih menjadi pemeran Neo, sejumlah aktor diharapkan bisa menjadi aktor pemeran Neo, such as Will Smith dan Nicholas Cage. Sean Connery juga sebelumnya pernah ditawari menjadi pemeran Morpheus yang akhirnya ditolaknya.
2. The Matrix menjadi salah satu film science-fiction terbaik bagi sejumlah pengamat film. The Matrix juga memenangkan Best Visual Effect pada ajang Academy Awards ke – 72.
3. Efek bullet time – Matrix yang fenomenal, cukup populer untuk diparodikan di sejumlah film-film komedi seperti Scary Movie dan Shrek.
4. The Matrix mengambil syuting mayoritas di Sydney, Australia.
5. The Matrix juga memenangi Best Movie di ajang MTV Movie Award. (FYI: film lain yang pernah memenangi ajang yang sama meliputi Twilight, Transformer, Titanic, Pulp Fiction, Trilogi Lord of The Ring dan Napoleon Dynamite).
Notes:
Sekali lagi, saya mo bilang bahwa membahas Matrix memang agak basi. But saya kebetulan kemarin-kemarin menonton lagi trilogi Matrix untuk kesekian kalinya, dan kepengen banget membahas Trilogi Matrix di blog ini. So, wait for the next movie review : Matrix Reloaded and Matrix Revolution.
Well, di luar kostum yang tampaknya memang ‘norak’, Matrix memang menyimpan keseruan tersendiri. Kode-kode pemrograman berwarna hijau menjadi begitu identik dengan Matrix, dan adegan-adegan perkelahian slow motion 360 derajatnya (ato lebih dikenal dengan “bullet time”) juga begitu monumental untuk ditonton, dan juga adegan ketika Neo menghentikan peluru-peluru yang ditembakkannya ke arahnya. Classic! Gag salah, adegan-adegan action semacam gitu begitu asyik bagi saya, bahkan ketika saya menyaksikannya untuk kesekian kalinya beberapa hari kemarin. Hahaha... Matrix memang tak ubahnya sebuah guilty pleasure bagi saya sampe sekarang.
Jauh sebelum Inception seorang Nolan yang legendaris itu, Matrix membuat sebuah konsep baru mengenai kehidupan dan kinerja otak, yang membuat kita bertanya-tanya apakah gagasan mengenai kehidupan yang kita yakini ini, sebenarnya tak ubahnya sebuah pemrograman jenius yang dimasukkan ke pikiran kita. Dunia sebenarnya mendekati ambang kehancuran, manusia sedang berperang melawan mesin-mesin jahat yang bisa berpikir sendiri. Kehidupan keseharian ini, sebenarnya cuma akal-akalan mesin yang menidurkan seluruh manusia dan membuat mereka berpikir bahwa sesuatu yang fana itu real adanya. Cuma sebuah program. Oke, gagasan ini memang terdengar begitu liar, dan agak sulit mengetahui jalan pikiran trilogi Matrix. Bahkan ada yang bilang bahwa yang mengerti film ini sendiri cuma The Wachowski Brothers yang notabene adalah sutradara dan creator franchise The Matrix.
Sebelum bicara lebih jauh, saya akan membahas satu persatu bagian pembentuk trilogi Matrix. Start from the first movie: The Matrix.
The Matrix (1999)

Rotten Tomatoes : 87% (7.4/10)
Metacritic : 73/100
NikenBicaraFilm :

Sinopsis:
Cerita dimulai ketika Thomas Anderson (Keanu Reeves), yang di dunia hacker menamakan dirinya Neo, bertemu dengan Morpheus (Laurence Fishburne) dan Trinity (Carrie Ann Moss). Inilah awal dimana Neo berhasil keluar dari Matrix ke dunia real, dan mengetahui bahwa kehidupan yang ia kenal sebelumnya sebenarnya adalah pemrograman yang ditanam di otaknya oleh para mesin-mesin jahat. Morpheus meyakini dirinya (Neo) adalah “orang yang dipilih” yang akhirnya bisa memberikan kedamaian buat umat manusia, berdasarkan hasil ramalan Oracle, seorang peramal di dalam Matrix. Neo, tidak tahu apakah ini benar atau tidak, kemudian pergi ke Matrix untuk bertemu dengan Oracle, tanpa menyadari bahwa kepergiannya ini begitu berbahaya.

Matrix, dengan segala atribut gagasannya yang gila, dan adegan action yang begitu mempesona, dengan sosok jagoan yang cool, menjadikan Matrix menjadi awal yang begitu indah pada trilogi Matrix. Ini adalah film yang sukses. Gag heran kalo kemudian Matrix menjadi Box Office dengan meraih pendapatan sebesar lebih dari tujuh kali dari budget 63 juta dollar. Opening scenenya, menampilkan sosok Carrie Anne Moss berkelahi melawan para polisi sudah sedikitnya langsung menarik perhatian.
Ada banyak ide-ide gila seputar Matrix yang mungkin susah untuk dimengerti, dan saya sendiri gag bisa ngeh dengan cepat apa yang dimaui oleh The Wachowski Brothers. Pada film pertamanya ini, saya hanya menangkap sebuah permulaan kisah – yang nantinya akan semakin membingungkan: Neo, dipercaya oleh Morpheus dan kawan-kawan sebagai The One – orang yang dipilih, yang diharapkan bisa mengakhiri perang antara mesin dan manusia di kehidupan nyata sekaligus menghancurkan Matrix. Ramalan ini dilakukan oleh Oracle, dan pada bagian pertama ini dijelaskan apakah benar Neo adalah yang Terpilih atau bukan. Pada bagian awal ini emang lebih kepada pengenalan Matrix. Neo juga baru belajar menjadi manusia yang canggih dan belajar mengendalikan pikirannya di dalam Matrix. Pemrograman-pemrograman gila dirancang dan diberikan kepadanya, salahsatunya program kungfu dan jujitsu. Musuhnya di Matrix, masih sebatas agen-agen dengan jas yang rapi dan berkaca hitam (*btw saya gag tau kenapa Wachowski Brothers suka banget sama kacamata item). The big enemy of Neo, adalah Agen Smith yang sudah mulai memanggil Neo dengan sebutan: “Mr.Anderson...” – dengan intonasi yang saya yakin Anda gag bakal bisa melupakannya.
Di bagian pertama ini saya masih mempertanyakan siapa Oracle? Apakah dia manusia atau bagian dari program di Matrix seperti para agen di sana? – Dan ada beberapa hal lain yang saya juga gag begitu ngerti. Habis percakapan-percakapan di sini disampaikan dengan penuh maksud tersirat, gag langsung to the point. Mirip kayak penjelasannya Dumbledore yang selalu njelimet lah di bagian akhir cerita Harry Potter. Huft. Saya juga masih gag begitu ngerti bagaimana Neo mendadak bisa hidup kembali setelah Trinity mengucapkan “I Love You...”, dan bagaimana Neo bisa masuk ke tubuh Agen Smith dan menghancurkannya. Adegan Neo bisa bengkokin sendok juga maksudnya apa... Kalo menurut pikiran saya sih, mungkin maksudnya bahwa Neo harus benar-benar fokus dan berkonsentrasi bahwa kejadian di Matrix adalah rekayasa dan gag real. Tidak ada sendok. Kita cuma harus bisa mengendalikan pikiran. Dan cuma Neo yang mampu melakukan itu, karena dia adalah yang terpilih... *astaga niken, serius banget sih nonton film ngayal beginiaaannn... #jitakkepala

But, saya rasa noda besar pada The Matrix adalah romantisme percintaan Neo dan Trinity. Saya rasa Trinity gag pernah terlibat kejadian apapun yang membuat dia bisa jatuh cinta ama Neo. Masa hanya gara-gara ramalan Oracle yang mengatakan ia akan jatuh cinta pada Neo, terus dia dengan mudahnya bisa mengatakan bahwa ia cinta ama Neo. Adegan mengatakan I Love You pada Neo dan mencium bibir Neo pas Neo ditembak mati terus tiba-tiba Neo bisa hidup kembali juga terasa kacangan buat saya. Huft. Saya rasa pemilihan aktris Carrie Anne Moss sebagai Trinity juga ketuaan deh buat Keanu Reeves. #sirik

Facts (from wikipedia) :
1. Sebelum Keanu Reeves terpilih menjadi pemeran Neo, sejumlah aktor diharapkan bisa menjadi aktor pemeran Neo, such as Will Smith dan Nicholas Cage. Sean Connery juga sebelumnya pernah ditawari menjadi pemeran Morpheus yang akhirnya ditolaknya.
2. The Matrix menjadi salah satu film science-fiction terbaik bagi sejumlah pengamat film. The Matrix juga memenangkan Best Visual Effect pada ajang Academy Awards ke – 72.
3. Efek bullet time – Matrix yang fenomenal, cukup populer untuk diparodikan di sejumlah film-film komedi seperti Scary Movie dan Shrek.
4. The Matrix mengambil syuting mayoritas di Sydney, Australia.
5. The Matrix juga memenangi Best Movie di ajang MTV Movie Award. (FYI: film lain yang pernah memenangi ajang yang sama meliputi Twilight, Transformer, Titanic, Pulp Fiction, Trilogi Lord of The Ring dan Napoleon Dynamite).
Notes:
Sekali lagi, saya mo bilang bahwa membahas Matrix memang agak basi. But saya kebetulan kemarin-kemarin menonton lagi trilogi Matrix untuk kesekian kalinya, dan kepengen banget membahas Trilogi Matrix di blog ini. So, wait for the next movie review : Matrix Reloaded and Matrix Revolution.